Showing posts with label Islam Plural. Show all posts
Lalai menghargai Keberkahan Allah Swt
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Lalai menghargai berkah atau pemberian dari Allah, menghabiskan atau menghambur-hamburkan sesuatu adalah bentuk kesia-siaan, bertentangan dengan yang Allah peringatkan dalam A-Qur’ân:
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’, (17):26-27)
Kelalaian atas limpahan berkah yang diberikan Allah menunjukkan kurangnya bersyukur padaNya. Seperti yang ditetapkan dalam Qur’ân, mengingkari syukur adalah sifat setan; oleh karena itu, mereka yang tidak bersyukur pada Allah dengan mengabaikan ketetapanNya, menjadi “saudara iblis” atau pengikut setan.
Sementara keberkahan semestinya secara logis dapat meningkatkan rasa bersyukur seseorang kepada Allah, maka menyia-nyiakannya menunjukkan sikap pengingkaran, sebuah sikap yang mungkin akan mencabut rahmat dan berkah Allah pada seseorang di hari akhirat.
Surga adalah tempatnya kemuliaan yang dihiasi oleh nikmat Allah yang sempurna dan tak terbatas. Akan tetapi, tak mungkin bagi seseorang yang tetap tidak peka terhadap limpahan berkah di dunia, dapat–dengan pantas–menghargai berkah Allah di surga dan memujiNya.
Agar layak mendapatkan surga, seseorang pertama-tama harus menghargai apa yang telah Allah berikan padanya ketika masih di dunia.
Meskipun seseorang mungkin menghindari pemborosan yang besar, tetapi ketidakpedulian, penyalahgunaan serta lalai atau salah dalam menjaga perkara-perkara yang kecil, dianggap sebagai bentuk pengingkaran syukur juga.
Seorang mu’min terutama harus cermat dalam persoalan-persoalan demikian karena takut menjadi ingkar atau lalai dalam menghormati Allah.
Dalam Al-Qur’ân, Allah menginginkan hamba-hambaNya memperoleh manfaat dari berkahNya menurut cara yang terbaik, sekalipun mereka dapat menghindari kesia-siaan:
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A`râaf, (7):31)
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’, (17):26-27)
Kelalaian atas limpahan berkah yang diberikan Allah menunjukkan kurangnya bersyukur padaNya. Seperti yang ditetapkan dalam Qur’ân, mengingkari syukur adalah sifat setan; oleh karena itu, mereka yang tidak bersyukur pada Allah dengan mengabaikan ketetapanNya, menjadi “saudara iblis” atau pengikut setan.
Sementara keberkahan semestinya secara logis dapat meningkatkan rasa bersyukur seseorang kepada Allah, maka menyia-nyiakannya menunjukkan sikap pengingkaran, sebuah sikap yang mungkin akan mencabut rahmat dan berkah Allah pada seseorang di hari akhirat.
Surga adalah tempatnya kemuliaan yang dihiasi oleh nikmat Allah yang sempurna dan tak terbatas. Akan tetapi, tak mungkin bagi seseorang yang tetap tidak peka terhadap limpahan berkah di dunia, dapat–dengan pantas–menghargai berkah Allah di surga dan memujiNya.
Agar layak mendapatkan surga, seseorang pertama-tama harus menghargai apa yang telah Allah berikan padanya ketika masih di dunia.
Meskipun seseorang mungkin menghindari pemborosan yang besar, tetapi ketidakpedulian, penyalahgunaan serta lalai atau salah dalam menjaga perkara-perkara yang kecil, dianggap sebagai bentuk pengingkaran syukur juga.
Seorang mu’min terutama harus cermat dalam persoalan-persoalan demikian karena takut menjadi ingkar atau lalai dalam menghormati Allah.
Dalam Al-Qur’ân, Allah menginginkan hamba-hambaNya memperoleh manfaat dari berkahNya menurut cara yang terbaik, sekalipun mereka dapat menghindari kesia-siaan:
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A`râaf, (7):31)
Sikap rendah hati dan kesederhanaan orang mu'min
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Seperti yang kita pahami dari ayat, “
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang
apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur
sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak
menyombongkan diri” (al-Sajdah: 15), bahwa salah satu keadaan
keimanan terpenting adalah kesederhanaan. Oleh karena itu, seperti yang
dijelaskan ayat tersebut, mu’min itu selalu sederhana, menyadari bahwa
Allah tidak akan mencintai siapapun yang sombong (al-Nisâ: 36).
“Adapun
hamba-hamba Tuhan (Allah) yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang
yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh
menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan,
Salam.”(al-Furqan: 63)
Moralitas (akhlâq)
Islam menuntut ketundukkan pada Allah, dan ketundukkan menuntut
pengakuan atas kelemahan seseorang. Orang-orang mu’min, yang mengakui
bahwa segalanya milik Allah dan bahwa dirinya lemah dan membutuhkanNya,
juga akan bersikap sederhana terhadap hamba Allah yang beriman lainnya.
Bersikap sombong bertentangan dengan keyakinan, dan Rasulullah
saw.menyuruh orang-orang mu’min agar rendah hati dan memperlakukan
sesama layaknya saudara, sebagaimana dalam hadits:
Janganlah
saling iri, menaikkan harga sesuau kepada orang lain, saling membenci,
saling berpaling, dan janganlah saling merendahkan harga jual, tetapi
jadilah dirimu.
Hai hamba-hamba Allah, bersaudaralah. Seorang Muslim
adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menindas maupun
menjatuhkanya, membohongi atau mencelanya. Kesalehan ada di sini–Nabi
saw. menunjuk dadanya tiga kali. Cukup jahat bagi seseorang yang
memandang rendah (hina) saudaranya sesame Muslim.(H.R. Muslim)
Kesombongan
dan kesederhanaan terlihat terutama pada hubungan manusia. Sikap iblis,
sebagaimana diceritakan dalam Qur’ân, menjelaskannya dengan sangat
baik. Iblis menolak bersujud pada Nabi Adam. Menyadari akan
kemahabesaran Allah, tidak masuk akal baginya secara terang-terangan
mengakui kebesaran Adam di atas Allah. Tetapi, menyakiti adalah
kebanggannya. Kepada Nabi Adamlah iblis menunjukkan keangkuhan, dan
dengan demikian menampakkan sikap pembangkangannya kepada Allah.
Oleh
sebab itu, kesombongan yang merupakan dosa terhadap Allah, terlihat
pada hubungan seseorang dengan yang lain, demikian pula dengan
kesederhanaan. Orang-orang mu’min menunjukkan ketundukkan mereka pada
Allah dengan bersikap sederhana terhadap hambaNya yang lain. Menyadari
bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas sifat-sifat mereka, mereka
bersyukur pada Allah, dan tidak pernah lupa bahwa Allah mungkin akan
menariknya kembali kapanpun. Takut akan hukuman dari sang Pencipta dan
Pemilik kekuasaan, mereka berlindung pada tak satupun selainNya.
Ketundukan dan ketakutan orang-orang mu’min kepada Allah ini,
diceritakan dalam ayat sebagai berikut:
“Katakanlah (Muhammad),
“sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat melindungimu dari (azab)
Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain
diriNya.”(al-Jinn: 22)
Keajaiban kilat dan petir yang bertasbih
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Tiga juta guntur dalam setahun
Sambaran kilat yang mengingatkan kita pada kematian
Sumber energi yang bergerak pada kecepatn 96.000 km/jam dan melepaskan panas 30.000o.
Pernahkah
anda berpikir bagaimana guntur–sebagai salah satu peristiwa atmosfir
terhebat yang Allah ciptakan–itu tebentuk dan bagaimana ia mampu
melepaskan sejumlah energi yang demikian besar?
Selama
hujan, guntur dan kilat yang tersusun dari pembentukan cahaya-cahaya
terang akibat pelepasan energi listrik di ruang atmosfir, sesungguhnya
merupakan sumber energi yang menghasilkan listrik lebih besar dari pada
ribuan pembangkit listrik–di samping sebagai fenomena iklim. Jawaban
atas pertanyaan bagaimana sumber-sumber energi alam ini terbentuk dan
betapa besarnya sumber-sumber tersebut melepaskan cahaya dan panas
adalah sebuah keajaiban penciptaan yang mengungkapkan kebesaran dan
keagungan Allah swt. yang abadi.
Kehebatan pembentukan dalam sekejap: keajaiban kilat dan petir
-
energi yang dilepas oleh sekali kilatan petir lebih besar dari pada
energi yang dihasilkan seluruh pembangkit listrik di Amerika.
- Satu kilatan petir dapat menyalakan 100 watt bola lampu selama lebih dari tiga bulan.
- Pada titik sentuh petir ke bumi, cuaca memanas hingga 25.000o C. kecepatan kilatan petir 150.000 km/detik dan rata-rata ketebalannya 2,5-5 cm.
- Petir menghasilkan molekul nitrogen yang dibutuhkan bagi tumbuh-tumbuhan di Bumi utuk menunjang kehidupanya.
-
Setiap petir rata-rata memiliki 20.000 amper daya listrik. Seorang
tukang las hanya menggunakan 250-400 amper untuk mengelas baja.
-
Petir bergerak pada kecepatan 150.000 km/detik, hampir setengah
kecepatan cahaya dan 100.000 kali lebih cepat dari kecepatan suara.
Suara
yang dilepaskan oleh satu kilatan lebih besar dari pada cahaya 10 juta
bola lampu berdaya 100 watt. Ini menerangkan; apabila setiap rumah di
Istanbul menyalakan satu bola lampu, pancaran cahaya dari satu kilatan
petir akan lebih besar. Allah menyatakan fenomena kilat yang menakjubkan
ini seperti “…kilauan kilatnya hampir membutakan pandangan.” (al-Nûr: 43)
Bagaimanakah kilat terbentuk?
Udara–yang
dipanaskan oleh cahaya matahari–naik membawa molekul-molekul air yang
menguap di dalamnya. Ketika udara yang naik ini mencapai ketinggian 2-3
km, udara tesebut bersentuhan dengan lapisan udara dingin. Saat kenaikan
udara, kristal-kristal es yang terbentuk di dalam awan melepaskan
energi listrik statis yang terbentuk karena pergesekan. Energi listrik
ini mengandung unsur positif (+) pada lapisan atas awan dan unsur
negatif (-) pada lapisan bawahnya. Ketika awan cukup terisi untuk
mengionisasi udara; maka petir terbentuk.
Mengapa bisa bergemuruh?
Petir memanaskan udara di sekitarnya hingga 30.000o
C dalam sepersejuta detik. Udara yang dipanskan meluas, dan menyebarkan
gelombang suara yang lebih cepat dari kecepatan suara; dengan tekanan
100 kali lebih besar dari tekanan atmosfir normal. Sama halnya dengan
pesawat yang melintas dengan kecepatan suara, ini menyebabkan ledakan
suara (gemuruh) di udara, sehingga dinamakan gemuruh/guntur.
Mengapa cahaya dan suara guntur tidak bersamaan mencapai bumi?
Ini
dikarenakan suara guntur mencapai pendengaran kita dengan kecepatan
suara (340 m/detik di udara); sedangkan petir mencapai visual
(penglihatan ) kita dengan kecepatan cahaya (99, 793 km/detik). Ini
menyebabkan perbedaan waktu antara dua peristiwa, dan dengan demikian
membuat kilatan (petir) mencapai bumi lebih sebelum guntur.
Apa perbedaan antara kilat dan petir?
Ketika
perbedaan muatan listrik menjadi lebih besar antara bumi dan awan,
udara menjadi lebih mudah ditembus dari bumi ke awan; pelepasan energi
listrik dimulai melalui saluran penghantar yang dibentuk oleh udara yang
ditembus itu. Pelepasan energi listrik dari awan disebut dengan kilat,
dan pelepasan energi listrik dari bumi disebut petir atau sambaran
balik.
Kebenaran kilat yang dinyatakan dalam Qur’ân
Suratal-Ra’d–yang
artinya “Guruh” atau “Guntur”–merupakan salah satu surat dalam Qur’ân.
Allah memberitahukan bahwa guntur dibentuk oleh kilat yang bertasbih
memujiNya: “Dan guruh bertasbih memujiNya (demikian pula) para malaikat karena takut kepadaNya…” (al-Ra’d: 13)
Sambaran kilat yang mengingatkan kita pada kematian
Pengalaman
mereka yang selamat dari sambaran kilat yang dapat menyebabkan kematian
ratusan orang setiap tahunnya, mengingatkan kita pada kematian dan juga
pengungkapan ketakberdayaan seseorang di hadapan Allah. Kemungkinan
seseorang tesambar petir adalah 1:700.000; akan tetapi tidak seharusnya
seseorang meremehkan kemungkinan tersebut dan juga dampak yang
dihasilkan. Menurut pengakuan mereka yang pernah tersambar petir, aliran
listriknya–bahkan–dapat meledakkan kancing dan sleting baju dan
seseorang dapat jatuh pingsan. Karena kerusakan otak yang dialaminya,
seseorang yang dirawat secara intensif di rumah sakit harus belajar
kembali bagaimana caranya berjalan, menelan makanan/minuman, atau dengan
kata lain bagaimana caranya hidup kembali. Mereka relah menggambarkan
bagaimana yang dirsakannya, dan ketika itu seola-olah mereka “hidup
merana dan kemudian dihidupkan kembali.” Dalam Qur’ân, peristiwa yang
sangat serupa terjadi ketika Allah tunjukkan pda kaum Nabi Musa as.
Dengan keberanian yang keliru dan memalukan, bani Israel menuntut pada
Nabi Musa as. agar mereka dapat melihat Allah dengan mata mereka, dan
sementara menuntut, mereka ditunjukkan dampak kilat yang serupa.
Pernyataan dalam ayat berikut “maka kilat menyambarmu hingga kamu mati”
dan “kemudian kami membawamu kembali ke kehidupan setelah kamu mati,”
menjadi petunjuk dari kenyataan bahwa mereka –ketika itu –merasa hidup
kembali setelah jantungnya terhenti, akibat kejutan dan juga hilangnya
kesadaran dan ingatan yang mereka alami. (Allah mengetahui yang terbaik)
Berikut ini adalah ayat-ayat yang berhubungan dalam Qur’ân:
“Dan
ingatlah ketika kamu berkata, “wahai Musa! Kami tidak akan beriman
kepadamu seebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka petir
menyambarmu, sedang kamu menyaksikan. Kemudian, kami membangkitkan kamu
setelah kamu mati, agar kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 55-56)
Contoh nyata dari sebuah elektron yang menakjubkan
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Sebuah atom, terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, terdiri dari inti dan elektron yang berputar di sekitar inti.
Proton
merupakan inti bermuatan positif dan neutron tidak bermuatan, inti itu
sendiri selalu bermuatan positif. Sedangkan elektron yang berputar di
sekitar inti sebanyak satu juta kali putaran per detik SELALU bermuatan
negatif.
Salah satu karakteristik terpenting yang membuat atom begitu menakjubkan adalah putaran dari electron yang tanpa henti.
Elektron dalam atom, yang tidak pernah berhenti berputar sejak saat penciptaan mereka, TERUS BERPUTAR TANPA TERPUTUS DENGAN KECEPATAN YANG SAMA, tidak peduli berapa banyak waktu berlalu atau dari bagian apa substansi mereka.
Setiap
atom memiliki jumlah elektron yang berbeda. Misalnya, hanya ada 1
elektron dalam atom hidrogen, 2 elektron dalam atom helium dan 92
elektron dalam atom uranium.
Elektron-elektron
tersebut berputar pada tujuh orbit yang terpisah. Dalam atom yang
berat, sekitar 100 elektron didistribusikan di antara tujuh orbit
tersebut. Sejumlah elektron berputar dengan kecepatan luar biasa pada
orbit yang sama, atau bahkan ada elektron yang menyeberang antar orbit. TETAPI MEREKA TIDAK PERNAH bertabrakan.
Hal
Ini adalah salah satu aspek yang paling menakjubkan dari elektron. Tak
ada satupun dari seratus atau lebih elektron pada tujuh orbit berbeda,
yang berputar satu juta kali tiap detiknya, yang pernah bertabrakan
dengan elektron yang lain, berhenti berputar atau putarannya menjadi
lambat. Setiap elektron masing-masing mengontrol gerakannya yang
menakjubkan itu agar tetap pada jalannya sendiri, dalam harmoni yang
menakjubkan, dan telah melakukannya sejak penciptaan alam semesta.
Ada
hal lain yang menakjubkan di sini. Agar elektron dapat berputar pada
orbit yang berbeda mereka harus memiliki massa yang berbeda, seperti
planet-planet. Tapi anehnya semua elektron MEMILIKI MASSA DAN UKURAN
YANG SAMA. Hal inilah yang hingga saat ini belum diketahui mengapa
tingkat energi dari partikel-partikel identik ini berbeda dan mengapa
mereka berputar dalam orbit yang berbeda (padahal massa dan ukurannya
sama).
Elektron
menempati tempat mereka di orbitnya dengan suatu perintah khusus dan
berpindah tempat bila perlu, juga dengan cara yang sama. Mereka
terlindungi secara special, maka dengan demikian mereka tidak pernah
berbenturan, karena pada hakikatnya mereka berada di bawah kendali
tunggal dari Alloh Yang Maha Kuasa, yang Menciptakan dan Selalu
Mengawasi mereka setiap saat.
Setiap
atom telah diciptakan lebih dari 15 miliar tahun yang lalu dan sampai
saat ini masih tetap patuh menjalankan aturan sama yang menakjubkan
tersebut.
Selama
15 miliar tahun, tidak ada satupun elektron berputar pada orbit yang
salah, tak ada satupun yang merubah kecepatan atau bertabrakan dengan
elektron yang lain, karena setiap elektron berada dalam pengetahuan
Tuhan kita dan setiap elektron bergerak atas perintah-Nya.
Itu
sebabnya, jika dikaji dari sisi pengetahuan dan penciptaan, mulai dari
galaksi raksasa hingga ke dunia yang tak terlihat di dalam atom,
semuanya adalah satu dan sama. Mereka semua ada karena Tuhan kita Allah
memerintahkan mereka untuk "Jadilah!"
Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk
Sesungguhnya
perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya
mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia. (Surat An-Nahl:
40)
Niat untuk berbuat baik setiap saat
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Seorang
yang beriman menjalani seluruh hidupnya berdasarkan Al Qur'an, dan
berusaha menerapkan secara hati-hati dari hari ke hari apa yang telah ia
baca dan pelajari dalam ayat-ayatnya. Dalam segala perbuatannya, sejak
saat dia bangun di pagi hari sampai waktu dia tertidur di malam hari,
dia memiliki niat bahwa dalam berpikir, berbicara dan bertindak itu
harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur'an
Allah Menyatakan kepada kita dalam Al Qur'an bahwa pengabdian seperti ini yang mendominasi seluruh kehidupan orang yang beriman.
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Surat Al-An’am: 162)
Sejak
saat seorang muslim memiliki iman, ia telah membuat keputusan untuk
menghabiskan setiap saat dalam hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah.
Sejak saat itu, ia menunjukkan semangat rohani dan usaha yang besar baik
dalam segi material maupun spiritual. Namun, karena kecenderungan yang
melekat, seorang Muslim tidak pernah merasa bahwa imannya sudah berada
pada tingkat yang cukup, sehingga selama belum sampai pada napas
terakhirnya, ia selalu memiliki kesempatan untuk meningkatkan
keimanannya di setiap saat dalam hidupnya.
Dengan
demikian, maka setiap hari, setiap jam, setiap saat, dia harus sekali
lagi membuat niat dalam hatinya untuk memperdalam imannya,
memperbaharuinya dan berkomitmen untuk menghabiskan setiap saat dalam
hidupnya dalam mengerjakan amal saleh sehingga mendapatkan ridhlo Allah.
Orang Yang Beriman Harus Memperbaharui Niatnya Setiap Hari
Pada
saat ini, seperti saat kita sedang membaca artikel ini, kitapun dapat
memperbaharui niat kita. Sejak saat ini, kita dapat berniat untuk
menghabiskan waktu kita, menggunakan kesempatan kita, dan mengerahkan
segenap kekuatan spiritual dan fisik kita untuk digunakan pada hal-hal
yang jauh lebih berguna, penuh perhatian dan tulus
Kita
bisa menilai setiap kesempatan dalam melaksanakan segala macam ibadah
dengan penuh semangat. Kita bisa mengamati setiap kesempatan yang dapat
menjadikan kita mendapatkan ridha Allah dan berlomba untuk melakukan
amal saleh.
Kita
bisa mengalami kemajuan dalam rangka mendapatkan ridha Allah jika tidak
memiliki pemikiran seperti "Saya sudah membuat perbuatan yang baik ini,
dan ini sudah cukup untuk hari ini," atau "Dibandingkan dengan orang
lain di sekitar saya, saya sudah melakukan banyak usaha yang lebih
besar, dan dalam hal apapun, saya lebih baik dari mereka",.
Apa
yang dimaksud di sini adalah keadaan yang sangat berbeda dan khas dari
pikiran. Tidak diragukan lagi, seorang Muslim menghabiskan setiap
waktunya sesuai dengan moralitas Al-Qur'an. Namun, sikap seseorang yang
membuat keputusan secara sadar dan tegas mengenai hal ini sangat jauh
berbeda, untuk hati nurani seseorang yang seperti itu, hal ini sangat
sensitif.
Dia
sangat peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia lebih
waspada terhadap pekerjaan yang sulit, dibandingkan dengan orang yang
lain. Dia adalah orang yang selalu berbicara dengan kata-kata terbaik.
Dia lebih baik, lebih damai dan lebih positif dibandingkan dengan orang
yang lain.
Dia
adalah orang yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Dia lebih
memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan berusaha untuk
memenuhinya, sebelum orang lain melakukannya. Dia selalu berpenampilan
dengan gaya yang damai dan sesuai. Suasana hatinya sangat berbeda dan
positif, dimana orang lain langsung bisa mengetahuinya.
Orang
beriman Berniat untuk Hidup dengan Nilai Moral Yang Diajarkan oleh
Allah dalam Al Qur'an dengan Cara Terbaik selama 24 Jam Sehari.
Apapun
kondisinya, orang beriman tidak akan berkompromi dalam menunjukkan
akhlak yang tinggi. Nilai-nilai mereka tidak berubah, mereka selalu
menyesuaikan dengan apa yang Allah Perintah dan Ridhoi.
Mereka mengambil Muhammad Rasulullah (saw) sebagai suri tauladan mereka yang Allah Puji dalam Al Qur'an dalam kata-kata ini:
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Surat Al-Qalam: 4)
Hanya
ada satu cara untuk selamat dari hancur dalam siksaan kekal api neraka,
yaitu hidup menurut Al-Qur'an dan Sunnah, dimana dengan cara ini, Alloh
Menghadiahkan kepada manusia "suatu kemenangan"
Hidup
dalam Al-Qur’an dan Sunnah lah yang menyelamatkan manusia dari
kebodohan, di mana mereka tenggelam, cara berpikir mereka yang primitif,
lingkungan yang penuh dengan stres, karakter negatif, ketakutan yang
tak berdasar, keyakinan yang sesat, dimana kesemuanya inilah yang
merupakan penyebab dari disiksanya dalam neraka.
Dengan
menerapkan hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, mereka memperoleh
pemahaman dan kebijaksanaan, nilai yang lebih tinggi, lingkungan yang
wajar, penuh dengan ketenangan pikiran, dan yang terpenting adalah hidup
di Surga yang penuh dengan berkah tiada akhir.
Hanya
ada satu cara untuk menghapus semua kecemasan, pertempuran, perang,
permusuhan, kemiskinan, kemelaratan dan kemarahan yang mengisi dunia:
yaitu dengan hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah Muhammad
(saw). Tidak ada cara lain bagi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan,
kesejahteraan, keadilan, kasih dan damai yang dia inginkan
Hidup
menurut Al-Qur'an dan Sunnah adalah semacam sebuah tameng terhadap
ketidakadilan, konflik, ketidaksetaraan, iri hati, perang,
ketidakseimbangan, kotoran, ketakutan, kefanatikan, kekejaman,
kekerasan, amoral, dan hal lain seperti itu adalah solusi yang paling
dasar bagi manusia agar mereka dapat hidup dengan nyaman, damai, penuh
kebahagiaan dan keadilan.
Meskipun
demikian, dan karena mereka telah berpaling dari moralitas agama yang
benar demi keuntungan kecil, keuntungan duniawi dan kelemahan manusia
itu sendiri, sebagian orang menimbulkan kerusakan besar pada diri mereka
sendiri. Bagi manusia, dengan berpaling dari moralitas Al-Qur'an dan
Sunnah, ini berarti bahwa ia akan tetap tidak sadar akan kebenaran yang
merupakan hal yang sangat penting untuk diketahuinya.
Namun,
sumber daya yang telah dikumpulkan oleh dia dan manusia fana seperti
dia, tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam situasi dan masalah
yang mereka hadapi di dunia. Orang-orang seperti mereka akan
menghabiskan seluruh hidup mereka didalam kecemasan, kekhawatiran,
stres, ketakutan dan kesulitan, dan tidak ada solusi untuk masalah
mereka. Dan pada akhirnya, mereka akan menerima situasi ini sebagai
suatu yang normal dan akan menghabiskan sisa hidup mereka dalam keadaan
tertipu, dan mereka berpikir bahwa penderitaan mereka adalah "sebuah
kenyataan hidup", padahal keadaan seperti itu sebenarnya merupakan
hukuman karena tidak menjalani hidup dengan prinsip-prinsip moralitas
agama.
Orang-orang
beriman yang mengikuti nilai-nilai yang ditetapkan oleh Allah dalam Al
Qur'an dan membuat mereka menang atas setiap saat dalam hidup mereka,
akan hidup dalam keadaan terbaik
Allah mengumumkan kabar baik untuk orang beriman dalam kata-kata berikut:
Dan
sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan
yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan
mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Surat
Saba: 37)
Orang
beriman mengalami efek positif dari "memperbaharui niatnya" setiap
hari. Tujuan seorang beriman yang memiliki sikap moral seperti ini
(selalu memperbaharui niat) adalah agar menjadi salah seorang diantara
"para hamba yang paling dicintai Allah." Untuk alasan seperti ini, saat
dia bisa sepenuhnya mengadopsi sikap moralitas ini, ia sekali lagi
berkeinginan untuk menjadi lebih tulus, lebih sensitif terhadap ridha
Allah, dan lebih teliti, hal ini akan memperdalam moralitasnya dan
bahkan lebih.
Hal
ini berlanjut hingga akhir hidupnya, ia tidak pernah merasa bahwa usaha
dan perbuatannya yang baik ini sudah mencukupi. Akibatnya, iman,
moralitas, kepribadian dan sikapnya, mengalami kemajuan terus menerus
dan pada akhirnya mencapai kesempurnaan.
Dalam Qur'an, Allah Memberi tahu kepada kita tentang karakter Muslim seperti itu, berikut ini:
Orang-orang
seperti itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah
orang-orang yang segera memperolehnya. (Surat Al-Mu’minun: 61)
Dengan
kehendak Allah, hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah akan
menjadikan orang untuk mampu mengembangkan suatu wawasan yang luas dari
pemahaman, kecerdasan yang unggul, kemampuan untuk membedakan mana yang
benar dan salah, serta kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal secara
mendalam.
Karakter-karakter
seperti ini akan memastikan bahwa orang yang memiliki karakter-karakter
tersebut, akan menjalani hidup setiap saat dalam kehidupannya dalam
kemudahan yang berasal dari keuntungan-keuntungan ini.
Seseorang
yang menjalani hidupnya dengan tunduk pada Allah dan sesuai dengan
ajaran agama akan sangat berbeda dari orang lain dalam cara dia
berperilaku, duduk dan berjalan, dalam sudut pandangnya dan bagaimana ia
menjelaskan dan menafsirkan sesuatu hal, dan dalam solusi yang ia
temukan untuk masalah-masalah yang menghadapinya.
Allah lah yang mengatur segala sesuatunya
Posted by Ozenk Articles on
Filed within
Islam Plural,
Islamic
Kebanyakan
orangsenang ketika hal-hal terjadi sesuai dengan keinginan mereka,
tetapi mudah kesal ketika hal-hal kecil tidak sesuai dengan keinginan
mereka.Tetapi, seseorang memercayai Allah (khususnya muslim) tidak boleh
memiliki sifat seperti itu. Dalam Al-Qur'an, Allah mengungkapkan kabar
baik bahwa Ia telah menentukan setiap peristiwa yang terjadi hanyalah
demi kebaikan hamba-Nya yang benar, dan tidak ada yang harus menjadi
kesedihan atau kesulitan bagi mereka.
Seseorang
yang mengetahui kebenaran ini didalam hatinya, dapat menyenangi hal
apapun yang ia jalani dan berkah yang terdapat di balik hal itu.
Banyak
orang tidak memikirkan bagaimana mereka tercipta ataupun mengapa mereka
ada. Meskipun hati nurani mereka membimbing mereka agar sadar tentang
keajaiban dan sempurnanya dunia yang dimiliki oleh Sang Pencipta, banyak
sekali cinta yang mereka rasakan untuk kehidupan dunia ini, atau
keengganan mereka untuk menghadapi kebenaran, membawa mereka untuk
menyangkal realitas mengenai keberadaan-Nya. Mereka menolak bukti bahwa
setiap kejadian dari hidup mereka telah ditentukan sesuai dengan rencana
dan tujuan, tetapi perilaku mereka menunjukkan aksi yang salah, yakni
menganggap hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan ataupun
keberuntungan. Bagaimanapun, itu hanyalah pandangan sekilas dari manusia
yang menghalangi mereka untuk melihat kebaikan/sisi positif dari suatu
kejadian dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.
Adajuga
mereka, yang sadar akan keberadaan Tuhan, dan memahami bahwa Dialah
yang telah menciptakan seluruh alam semesta. Mereka mengakui bukti bahwa
Allah-lah yang menurunkan hujan atau mengatur terbit dan terbenamnya
matahari. Mereka mengakui bahwa selain karena kuasa Allah, tidak ada
satupun kejadian yang dapat terjadi. Namun, ketika terjadi sedikit
insiden kecil dalam hidup mereka, mereka tidak dapat berpikir mengenai
kekuasaan Allah. Namun demikian, Dialah yang mentakdirkan seorang maling
untuk mencuri ke rumah seseorang saat malam, menjadikan suatu halangan
yang membuat seseorang jatuh, sebidang tanah yang subur untuk
menghasilkan tanaman menjadi gersang, perdagangan agar menguntungkan,
ataupun panci masakan yang terlupakan di kompor. Setiap kejadian
termasuk dalam hikmah Allah yang tak terbatas dan sesuai dengan
rencana-Nya yang luhur. Setetes noda lumpur pada celana kita, sebuah
tusukan pada ban, jerawat muncul di wajah seseorang, penyakit, atau hal
yang tidak diinginkan, semuanya dimasukkan kedalam kehidupan seseorang
dengan rencana tertentu.
Tidak
ada seseorang yang mengalami—mulai dari ia membuka matanya—dapat
berdiri sendiri tanpa bantuan dan terpisah dari Allah. Semua kehidupan,
secara keseluruhan diciptakan oleh Allah, satu-satunya yang memegang
kendali atas alam semesta. Ciptaan Allah adalah sempurna, tanpa cacat,
dan penuh dengan tujuan. Ini adalah bagian dari takdir yang diciptakan
oleh Allah, seseorang tidak boleh mendiskriminasi suatu kejadian dengan
menetapkan suatu kejadian buruk dan jahat. Apa yang menjadi kewajiban
pada seseorang adalah untuk mengenali dan menghargai kesempurnaan dari
semua kejadian, dan untuk percaya dengan semua kepastian yang terletak
didalamnya, terlebih dari itu kita juga harus sadar mengenai kebijakan
Allah yang tak terbatas, semua dirancang untuk mengarah kepada tujuan
yang luar biasa. Memang, bagi mereka yang percaya dan mengenali kebaikan
dalam segala hal yang menimpa mereka, baik di dunia ini dan dunia luar
merupakan bagian dari suatu kebaikan yang kekal.
Dalam
Al-Qur’an, Allah menarik perhatian kita kepada fakta tersebut, hampir
di setiap halaman. Inilah sebabnya mengapa kegagalan untuk mengingat
bahwa segala sesuatu menurut takdir tertentu merupakan kegagalan bagi
seseorang yanb beriman. Takdir yang sudah ditentukan oleh Allah itu
unik, dan dialami oleh seseorang persis seperti yang telah Allah
tetapkan. Orang awam bisa merasakan keyakinan pada takdir hanya
sebagaicara untuk “menghibur saat terjadi bencana.”
Takdirditahbiskan
oleh Allah adalah unik, dan dialami oleh seseorang dalam persis cara
Allah telah ditakdirkan. Orang biasa merasakan keyakinan pada takdir
hanya sebagai cara untuk "menghibur saat terjadi bencana". Seorang
mukmin, di sisi lain, mencapai pemahaman yang benar terhadap takdirnya,
sepenuhnya menangkap bahwa itu adalah program yang sempurna satu-satunya
yang dirancang khusus untuknya.
Takdir
adalah agenda sempurna yang seluruhnya dikembangkan untuk seseorang
untuk masuk surga. Hal ini penuh dengan berkat dan untuk tujuan ilahi.
Setiap kesulitan yang ditemui seseorang di dalam dunia ini akan menjadi
sumber kebahagiaan tak terbatas, suka cita, dan damai di akhirat.
Ayat “Karena seseungguhnya sesudah kesulitan datang kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah : 5)
menarik perhatian kita pada fakta ini, dalam takdir
seseorang, kesabaran, dan keberanian dari seseorang yang beriman adalah
ditakdirkan bersama dengan imbalannya masing-masing di akhirat.
Ini
mungkin terjadi selama hari itu, bahwa orang beriman akan menjadi
jengkel atau khawatir tentang hal-hal tertentu yang telah terjadi.
Alasan utama dari rasa jengkel tersebut adalah kegagalannya untuk
mengingat bahwa kegagalan dalam hidupnya adalah bagian dari takdir yang
khusus diciptakan oleh Allah. Padahal, ia akan dihibur dan tenang ketika
ia diingatkan tentag tujuan penciptaan Allah.
Inilah
sebabnya mengapaorang beriman harus belajar untuk terus diingat bahwa
semuanya sudah ditakdirkan, serta mengingatkan orang lain mengenai fakta
ini. Dia harus menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kejadian tersebut
bahwa Allah telah ditakdirkan untuknya, di relung tanpa batas waktu,
menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan berusaha untuk mengenali
alasan-alasan di balik itu. Mereka yang berusaha memahami alasan ini
akan—dengan izin Allah—sukses. Meskipun mereka mungkin tidak selalu bisa
mendeteksi tujuan mereka yang sebenarnya, mereka harus tetap diyakinkan
bahwa, ketika sesuatu terjadi, tentu saja untuk beberapa yang baik dan
untuk tujuan.










